Baby Faced Beauty

Dulu sekali jaman masih kuliah, aku pernah nonton korean drama judulnya Baby Faced Beauty. Dalam ceritanya si tokoh utama sudah berumur 29 tahun namun wajahnya terlihat lebih muda dari umurnya. Karena itulah dia bisa mengikuti magang di sebuah perusahaan fashion dengan menggunakan identitas adiknya. Adiknya sendiri yang mengatur semuanya dan memaksa si tokoh utama untuk mau berpura-pura menjadi wanita umur 20an yang baru lulus dan magang.

Baby Faced Beauty

Ada satu hal yang aku ingat dari tokoh utama ketika dia menggumam iri pada anak-anak yang masih muda. Masih punya banyak kesempatan untuk mencoba banyak hal. Sedangkan untuk wanita seumuran dia mungkin sudah bukan "waktunya" lagi. Boro-boro mengejar cita, bahkan cinta pun sudah ga kepikiran.

Hari ini aku berumur 28 tahun yang mana udah ga muda lagi tentunya :p. Belakangan lagi suka nonton Indonesian Idol dan banyak pesertanya yang masih umur 16-18 tahun. Ya ampuun 10 tahun dari aku! Jujur, aku pun memikirkan hal yang sama dengan tokoh utama. Kayak iri dan pengen deh jadi muda lagi hehehe. Terus aku jadi inget percakapan tempo hari dengan seorang teman yang bilang dia setiap hari ulang tahunnya justru merasa insecure karena merasa belum berbuat banyak. Hm, FOMO?

Tapi belakangan di twitter juga banyak yang bilang bahwa orang Asia, atau Indonesia khususnya, punya standar tinggi tentang pencapaian. Umur 30 tahun harusnya sudah menikah lah, sudah punya aset dan tabungan sekian lah, dsb. Sebenernya positif aja sih kalau sedari muda sudah banyak pencapaian namuuun ga semua orang punya pace yang sama jadi sebenernya it's okay aja sih kalau di umur yang udah ga muda kamu baru sampai titik ini. Asalkan jangan berhenti bergerak aja, ya ga sih?

Eniwei, tokoh utama Baby Faced Beauty juga dapet happy ending loh. Walaupun di tengah-tengah episode dia sempat ketahuan dan akhirnya menghancurkan segalanya, ternyata dia masih bisa berkarya dengan identitas aslinya, dan juga bisa mendapatkan cinta, ehe. Intinya sih film ini ngajarin bahwa sebenernya ga ada kata terlambat untuk berkarya, asalkan kita tetep gigih dan mau bergerak.

Jadi, semoga kita juga bisa dapet happy ending, bisa merasakan self fulfillment, sesuai kecepatan masing-masing. Dan tentunya untuk muslim-muslimah mah happy endingnya semoga sampai ke jannah. Aamiin.

Kota Cinema Mall: Pengalaman Nonton di "Gedung Bioskop"

Kapan terakhir kali nonton di "Gedung Bioskop"? Kebanyakan bioskop-bioskop jaman sekarang, terutama di kota besar, ada di dalam mall. Terakhir saya nonton di gedung bioskop yang independen kayaknya waktu saya SD. Tempatnya di Bioskop 21 Kopo, Bandung.

Kemarin waktu lagi cari-cari jadwal film di Go-tix, muncul provider bioskop baru, namanya Kota Cinema. Sebenernya pernah tau sih dari temen kantor tentang bioskop ini dan katanya tempatnya bagus. Akhirnya belilah tiket di Go-tix untuk nonton disana.

Kota Cinema Mall

Tempatnya di Jatiasih, salah satu kawasan suburban di Kota Bekasi. Memang sepertinya bioskop ini menyasar warga suburban yang biasanya harus menempuh jarak yang cukup jauh ke mall di pusat kota. Jalan untuk menuju Kota Cinema ini ga besar, bener-bener di kawasan suburban yang didominasi kawasan perumahan dan kampung-kampung. Orang-orang yang dateng kesini aja bisa naik motor ga pake helm. Tentunya jangan ditiru 😅.

Berdiri di kawasan seluas 1 hektar, Kota Cinema Mall ini terdiri dari 2 gedung bioskop dan area foodcourt di plazanya. Walaupun namanya mall, tapi disini bukan pusat perbelanjaan seperti mall pada umumnya. Benar-benar hanya gedung bioskop yang independen dan foodcourt sebagai pelengkapnya. Jadi ga perlu ada acara cuci mata berujung belanja, hemat!

Suasana dari depan
Ada suasana yang berbeda saat masuk ke dalam gedungnya. Mungkin karena biasa ke bioskop di dalam mall yang settingan pencahayaannya dengan lampu yang sudah semi redup (meski siang), agak sedikit awkward ketika masuk di area lobi/ticket box. Desain fasad (tampak muka) gedungnya memang didesain full of glass jadi terang benderang, which is actually good karena memanfaatkan pencahayaan alami. Much greener, isn't it?

Fasad didominasi material kaca
Gedung pertama terdiri dari 2 lantai. Di lantai pertama berisi ticket box, concession -kalau mau pesan cemilan nonton, resto bento jepang, dan studio 1-2. Lantai ke-2 ada area dining. Gedung kedua cuma ada 1 lantai isinya ticket box, concession, game center, dan studio 3-6. Yang kurang saya suka, gedung pertama dan kedua ini ga terhubung. Jadi kalau mau pindah gedung mesti keluar lewat selasar teras. Agak bingung awalnya karena film yang mau saya tonton di studio 2 yang ada di gedung pertama, sedangkan saya masuk ke gedung kedua. Secara ruang juga kurang efisien ya karena jadi ada double ticket box dan concession. Entahlah, mungkin perencanaan awalnya ga ada gedung kedua. Saya gatau apakah penjualan tiketnya juga jadi terpisah antara studio 1-2 dan studio 3-6.

Area dining di Gedung 1

Lobi Gedung 2

Game Center di Gedung 2
Kalau dari segi kualitas studionya saya kira ga kalah dengan provider-provider senior. Studionya lebih kecil sih dan desainnya basic, sesuai harganya (tapi saya pernah dapet studio yang lebih kecil dengan harga yang mahal sih di Bandung huhu). Audio visual oke, tempat duduk juga nyaman. Yang bikin kurang nyaman, karena pintu masuknya di depan kursi penonton, jadi kalau keluar masuk orang agak ganggu sih. Dari segi range pengunjung beragam banget ya. Tapi sayang, masih aja ada pengunjung yang ga jaga kebersihan di dalam studio. Selesai nonton, di barisan kursi saya berhamburan sampah cemilan, hmm barbar sekali. Btw, meskipun disana-sini ada tulisan dilarang bawa makanan dari luar, tapi ga ada pengecekan semacam di CGV. Harga tiket juga berkisar di harga 25rb-35rb.

a little peek inside the studio, bisa tebak film apa?
Plaza foodcourt-nya luas dan pilihan makanannya lengkap. Sistem bayar ala pujasera (one cashier): pesan di kedai, bayar ke kasir, ambil pesanan di kedai/diantar. Harga makanan relatif murah dibanding makan di mall. Bisa pakai gopay dan dapat cashback 30%, hemat!


Suasana foodcourt


Ada mushola dekat tempat parkir. Tempat parkirnya cukup luas tapi kayaknya agak overload kalau weekend. Sayangnya ga ada petugas parkir di area motor, jadi mesti mindah-mindahin sendiri motor yang parkir menghalangi. Herannya padahal motor saya diparkir di posisi yang "aman" tapi pas balik posisinya melintang ga karuan 😅. Kelebihannya, tarif parkirnya flat: motor Rp 2000, mobil Rp 4000. Jadi ga khawatir ongkos parkir membengkak kalau lama-lama nongkrong disini.

Overall, pengalaman yang baru untuk nonton di gedung bioskop independen, terlebih lokasinya yang di dekat di pinggir kota jadi untuk warga suburban seperti saya ga mesti jauh ke kota. Bisa jadi alternatif hangout juga dengan harga makanan yang enak di kantong.

Pros:
1. Bisa lebih hemat dibanding ke mall
2. Sudah masuk jaringan gopay jadi bisa dapet benefitnya
3. Foodcourt nyaman, menu lengkap, aman di kantong
4. Tarif parkir flat

Cons:
1. Parkirannya ga ada petugas jadi mesti mandiri
2. Dua gedung yang ga terhubung jadi untuk pertama kali agak awkward dan bingung. Lebih baik jika ada sign pengarah.
Posted in  on Sabtu, Januari 19, 2019 by Fauziyyah Khairunnisaa | 2 comments 

About Me


Fauziyyah Khairunnisaa. kelahiran tahun 1991. Biasa dipanggil Icha. Arsitek muda yang senang jalan-jalan, makan, dan memperhatikan kegiatan orang-orang. An introvert who enjoy solitude tapi juga senang ketemu orang-orang. Senang memikirkan hal-hal random sampai-sampai overthinking.

Kenapa post lama dihapus? Ngga dihapus kok. Cuma sengaja di-archive semua supaya lebih brand new aja. Hehehe. Enjoy!

Jalan-jalan ke Hongkong: Hongkong International Airport's Midfield Concourse & Terminal 1

Maret 2016 lalu, saya bersama SAB berkesempatan mengunjungi Hongkong sebagai "bonus akhir tahun" dari SAB, horrayy! Kira-kira Agustus 2015 lalu, ada promo tiket pesawat ke Hongkong yang murah, akhirnya diputuskan untuk field trip kesana sekaligus untuk memperluas wawasan arsitektural #asik. Dan ini adalah kali pertama saya menggunakan paspor saya alias pengalaman pertama keluar negeri setelah membuat paspor sejak kapan tau. Hehe..

Kami menggunakan maskapai penerbangan AirAsia dengan transit di KLIA 2 sebelum terbang lagi menuju Hongkong International Airport. Perjalanan dari Cengkareng menempuh waktu kira-kira 8 jam dengan 2 jam transit.

(@arfrakim)

Hongkong International Airport facts: It is located on the island of Chek Lap Kok, which largely comprises land reclaimed for the construction of the airport itself. The airport is the world's busiest cargo gateway and one of the world's busiest passenger airports. It is also home to one of the world's largest passenger terminal buildings (the largest when opened in 1998). -wikipedia
 
di midfield concourse (@arfrakim)
Bandara Hongkong itu luas sekali. Selain yang ada di terminal 1, gate-gatenya juga terbagi ke dua concourse lainnya. Waktu itu gate kita ada di midfield concourseTerminal 2, Terminal 1, dan Midfield Concourse dihubungkan dengan Automated People Mover (APM) berupa subway. Jadi, dari midfield concourse ini kita menggunakan subway ke terminal 1. Canggih ya sirkulasinya kalau bandaranya luas :o

Layout Hongkong International Airport (wikipedia)
breakdown Hongkong International Airport (flightsnation.com)

Eskalator menuju subway hall di Midfield Concourse (@arfrakim)


Eskalator dari subway hall menuju imigrasi & arrival hall di terminal 1 (@arfrakim)
Untuk menggunakan transportasi di Hongkong, wajib banget punya Octopus Card. Octopus Card ini bisa didapatkan di Airport Express Customer Service di arrival hall. Harganya HK $ 150, dengan HK $ 50 sebagai deposit. Kami memutuskan naik airport bus yang rutenya lewat ke tempat kami menginap di Mong Kok, Kowloon Island. Airport Bus ada di sayap selatan pintu keluar terminal 1.

(@arfrakim)


to be continued..
on Minggu, Oktober 30, 2016 by Fauziyyah Khairunnisaa | Leave a comment 

Mengurus Mutasi Kendaraan Bermotor di Jabar

Buat teman-teman yang berdomisili asli Jawa Barat, sudah tau dong sekarang Pemprov Jabar sedang menggratiskan biaya mutasi/balik nama kendaraan bermotor? Pemprov Jabar juga membebaskan denda pajak untuk yang menunggak pajak kendaraan bermotor sebagai bentuk "amnesti pajak"-nya Pemprov Jabar. Dendanya saja ya yang dihapuskan, jadi cuma bayar pokok dan admin saja. Ini hanya berlangsung dari 17 Oktober 2016 - 24 Desember 2016. Jadi buat warga Jabar, hayu dimanfaatkan!

Kemarin saya baru saja selesai mengurus mutasi motor matic saya. Jadi setahun lalu saya membeli motor matic bekas bibi saya, tapi ga langsung urus balik nama karena waktu nanya ke samsat, lumayan mahal sekitar 600rb-an biayanya, belum ditambah pajaknya kan. Karena nyicil ke bibi juga belum beres waktu itu (sekarang mah udah, heuu) jadi yaudahlah nyantai kan masih saudara juga. Tapi ribet juga sih kalau mau bayar pajak harus pinjem KTP mamang saya dulu karena motornya atas nama beliau.

Mumpung gratis + sudah waktunya bayar pajak tahunan, yo wes sekalian aja. Saya mutasi dari Padalarang ke Cimahi. Berikut step-stepnya ya.

Hari 1: Datang ke SAMSAT sesuai domisili Pemilik Awal

Pertama yang dilakukan adalah datang ke SAMSAT pemilik awal. Kalau saya, ke SAMSAT Padalarang (jauuh). Kelengkapan yang harus ada adalah:

1. KTP asli yang akan dibalik nama, which is KTP saya.
2. STNK asli
3. BPKB asli
4. Kwitansi Pembayaran bermaterai. Kalau ga ada, jangan khawatir, karena biasanya bisa beli di tempat fotokopi, tinggal kamu isi dan tandatangan sebagai (bisa dibilang) formalitas.

Semua dimasukan ke map warna biru (bisa beli di tempat fotokopi). Lalu datang ke loket mutasi keluar. Nanti berkasnya akan diperiksa sebentar. Karena Padalarang dan Cimahi masih dibawah satu Polres, jadi saya langsung diminta ke cek fisik. Kalau selain itu, biasanya dikasih stiker khusus untuk cek fisiknya, kayak ada hologramnya gitu deh.

Buat yang gatau, cek fisik itu semacam nanti nomor seri motor dan nomor seri mesinnya digesek ke stiker sama petugas cek fisiknya, terus nanti formnya di cap/ditandatangan ke loket cek fisik. Oh ya dikasihkan bersama berkas lainnya karena sekalian diperiksa.

Setelah itu, semua berkas (KTP asli, STNK asli, BPKP asli, Kwitansi asli, dan Form Cek Fisik) difotokopi sebanyak 2 kali, masukan ke map. Lalu datang lagi ke loket mutasi keluar. Semua berkas asli dan fotokopi akan dicek. Sehabis dicek, petugas loket akan memberi nomor rekening untuk pembayaran administrasi mutasi sebesar Rp 75ribu. Bayar di Bank BRI yang ditunjuk, lalu slip pembayarannya diberikan ke loket mutasi keluar tadi. Petugas akan memberikan map yang isinya berkas asli (KTP, STNK, BPKP, Kwitansi, Form Cek Fisik), form fiskal, dan satu map lagi berkas pajak tahun lalu (eh entah sih, apa ini semua berkas terakhir yang ada di samsat sebelum dimutasi).

Hari 2: Datang ke SAMSAT sesuai domisili Pemilik Baru

Hari kedua, datang ke SAMSAT pemilik baru, which is SAMSAT Cimahi kalau saya. Berkas yang diperlukan adalah:

1. Map dari SAMSAT awal
2. Form Mutasi (SPPKB), yang bisa diminta ke bagian formulir, kalau di Cimahi kemarin formulirnya ada di bagian informasi. Diisi sesuai contoh yang biasanya ada di tempat pengisian formulir.
3. Form Cek Fisik. Digesek lagi seperti yang saya ceritakan di hari 1.
4. Slip pembelian buku BPKB, biaya buku BPKB dibayar di BRI yang ditunjuk (tanya ya ke bagian informasi), biasanya ada di Polres yang membawahi. Harga BPKB motor adalah Rp 80rb sedangkan mobil Rp 100rb.

Semuanya difotokopi 2 kali, lalu diberikan ke loket mutasi masuk. Petugas akan mengambil copy-an berkas + slip pembayaran buku BPKB asli dan dimasukan ke map khusus. Lalu berkas lainnya dikembalikan ke kita dan kita dikasih nomor kendaraan baru (hiks, bye-bye XT). Kemudian, datang ke bagian pendaftaran BBN, nanti kita akan dikasih form tanda terima berkas, lalu tinggal menunggu dipanggil oleh loket pembayaran. Disitu kita akan bayar pajak, kayaknya sih sesuai aja dengan terakhir kita bayar pajak kapan, kalau saya sih karena pas setahun jadi ga jauh beda dengan pajak sebelumnya, yaitu sekitar Rp 274rb.

Setelah bayar, kita tinggal menunggu dipanggil oleh loket penyerahan. Dan voila! STNK baru kita jadi. Fotokopi 1 kali, lalu datang ke loket mutasi masuk untuk minta resi BPKB. Resi BPKB digunakan untuk mengambil BPKP, kira-kira 2 minggu setelahnya. Ambilnya di Polres bagian pelayanan BPKB ya. Kemudian dari loket mutasi, jangan lupa datang ke workshop TNKB untuk mengambil plat nomor kendaraan baru. Nanti dipasangin juga kok sama abang-abangnya, dan plat lamanya juga ditarik. Yhaa padahal buat kenang-kenangan....

Tamat.

Panjang ya prosesnya. Antara ribet-ga ribet, karena kalau tau stepnya sesungguhnya kita ga perlu bolak-balik.

Tips-tips

1. Datang pagi jam 7 sebelum buka, dan langsung antriin kendaraan di bagian cek fisik. Karena bagian ini yang cukup time-consuming kalau antrinya belakangan. Bisa-bisa sehari cuma cukup ngurus ini doang.

2. Malu bertanya sesat di jalan, jangan ragu tanya ke bagian informasi atau satpam disana, entah itu nanya langkah-langkah atau make sure kalau berkas yang kamu bawa udah benar, kalau ke petugas loket kamu pasti langsung dilempar-lempar karena petugasnya juga banyak kerjaan. Jangan ragu juga tanya bapak-ibu sebelah yang barangkali ngurus hal yang sama.

3. Jangan baper kalau petugasnya jutek. Kebayang ga sih ngurus berapa ratus orang sehari yang bentuknya juga macem-macem.

4. Petugas fotokopi disana juga bisa diandalkan kok, mereka biasanya tau apa aja yang harus difotokopi kalau mau ngurus mutasi. Jadi tinggal kasiin berkas dan tau jadi hahaha.

5. Bawa buku untuk mengisi kekosongan waktu pas ngantri.

6. Sebenernya mungkin aja sih ngurus dalam waktu sehari, tapi better siapin waktu 2 hari karena banyak yang memanfaatkan momen ini, jadi ngantrinya pasti lama dan takutnya keburu tutup loket-loketnya.

Selamat mencoba! :)
on Rabu, Oktober 26, 2016 by Fauziyyah Khairunnisaa | Leave a comment 

Jalan-jalan ke IKEA Indo!

Sudah lama penasaran sama IKEA yang di Alam Sutera. Pertama kali main ke IKEA waktu fieldtrip sama SAB ke Hong Kong, itu juga gara-gara nyari suatu tempat (street market gitu atau apa ya) di daerah Causeway Bay tapi ga nemu, Eh, ternyata ada IKEA yaudah masuk.

IKEA Hongkong (Courtesy of  Google Street View)
Katanya sih, susah kalau naik angkutan umum ke IKEA Alsut, makanya beberapa teman menolak kalau diajak jalan kesana. Padahal ternyata ga susah kok. Setelah googling rute angkutan umum kesana, berangkatlah saya sendirian ehehehe..

Saya pilih pake KRL dari Stasiun Kebayoran, karena ga terlalu jauh dari rumah akung di Cirendeu. Jauh deng, naik busway dulu dari Halte Pondok Pinang ke Halte Kebayoran Lama, lalu jalan sedikit ke stasiun, Dari Stasiun Kebayoran naik KRL sampai Stasiun Serpong. Terus jalan ke arah jalan raya, nyebrang dan naik angkot hijau jurusan Serpong - Kalideres. Turun di Alam Sutera. Ingat: Turun di Alam Sutera, patokannya ada bunderan sama tugu jam bertuliskan Alam Sutera, dan ada MCD.

Kocaknya, karena belum pernah, saya nyasar jauh banget dari situ. Jadi waktu lewat situ, saya lagi merhatiin bangunan sebelah kiri yang mana Alam Suteranya ada di sebelah kanan. Abang angkotnya pasti mikir, ni anak siwer kali ya segitu tugunya segede gaban :3

ilustrasi kenyasaran :3 (courtesy of Google Maps)
Terus kesedihannya ga berhenti sampai situ, pas balik lagi pake angkot sebaliknya, eh si angkot yang ditumpangi tiba-tiba nabrak bus omprengan yang lagi ngetem. Walhasil mereka nega-nego dulu. Setelah 5 menit berakhir dengan si supir angkot bayar ganti rugi ke supir bus, kami jalan lagi. Belum juga 3 menit, bannya angkot bocor dong! Kempes sekempes-kempesnya, kayaknya nginjek paku begal yang katanya bolong tengahnya itu loh, jadinya kempes dalam sekejap. Kasihan juga sama mang angkotnya, dan mau ga mau ganti angkot.



Turun di MCD terus jalan sedikit ke halte Sutera Loop, saya gatau sih semua track lewat IKEA atau ngga, jadi perlu nanya dulu. Kemarin saya naik yang yellow line dan berhenti tepat di halte IKEA. Yay!

Halte IKEA (Courtesy of Google Street View)
Masuk ke IKEA, saya langsung ke tempat pengambilan Katalog 2017 yang baru terbit. Terus ga lupa juga ngambil pensil buat corat-coret kertas dan meteran haha. Norak. Padahal ga akan beli apa-apa. Dan ya, selalu menyenangkan sih jalan-jalan di IKEA, karena kamu bisa mencoba semua display furniturnya, hmmm. Apalagi kemarin lumayan sepi sih, jadinya puas exploring, sayangnya kurang foto-foto :|.

Bedanya dengan IKEA Hongkong, entah kenapa kalau IKEA Hongkong saking banyaknya orang, lebih mirip public space dibanding sebuah toko. Orang bisa berlama-lama duduk di sofa, tidur-tiduran di kasur, berasa rumah sendiri kali ya. Sampai-sampai ga bisa bedain mana yang duduk sebagai customer, dan mana yang duduk karena dia emang "konsultan furnitur" (entahlah namanya apa) kalau ga liat ternyata beneran lagi buka laptop. Kalau disini, mungkin pada malu-malu :3

Yang menarik di IKEA juga adalah konsep self service-nya, jadi kamu tulis di form yang sudah disediakan di pintu masuk kode barang dan lokasinya, dan nanti di area warehouse-nya, kamu ambil sendiri barang yang sudah di-pack dalam kardus lalu bayar ke kasir. Kita juga disarankan bisa pasang sendiri jadi ga perlu biaya tambahan untuk tukang kan? Klaim mereka, ini kenapa produk IKEA itu bisa "murah" karena kita ga perlu bayar jasa servis. Semua barang juga di-pack dengan slim shape, jadinya mudah dibawa.

Self service furniture area. Fotonya alay ya

(eh gatau sih, kalau di toko furniture lain gini juga kah?)

Setelah area display di lantai 2, sebelum turun ke warehouse di lantai 1, kita akan disambut dengan resto IKEA yang bola daging swedia hips itu, tapi karena mahal jadi ga beli. Rp 40rb/porsi, isinya bola daging dengan mashed potato. Karena hemat, jadi cukup puas dengan paket hotdog + es krim yang lagi promo aja di depan kasir IKEA (kalau dari pintu masuk bisa langsung cus ke arah kiri), cuma Rp 9rb aja, nyamm.

:9

Rute pulang sama aja dengan rute pergi, Oh ya, SuteraLoop bisa di-tracking di webnya, jadi kita bisa tau si bus lagi dimana, silahkan buka webnya ya.

Tracking posisi Sutera Loop di web ini

Jadi gambaran pengeluaran ongkos kemarin, kalau dari Stasiun Kebayoran adalah :
- KRL Kebayoran - Serpong Rp 2000
- Angkot Kalideres - Serpong Rp 5000
- Sutera Loop Rp 5000

Selamat mencoba :)


Display IKEA, baru sadar fotonya blur semua, zzz
Rumah 55 m2


Interior ideas for small house (55 m2)

Rumah 25 m2
the most satisfying scent of aromatherapy candle, vanilla!

on Rabu, September 21, 2016 by Fauziyyah Khairunnisaa | Leave a comment 

Baked Rice ala Risotto Ala-ala Kosan

Kemarin nemu resep Risotto ala-ala disini, terus penasaran dicoba, tapi ini semakin ala-ala karena dimasak di kosan dengan alat masak seadanya. Anyway, Risotto itu makanan khas Italia, semacam skutel gitu tapi ini pake nasi hahaha, karena saya doyan nasi jadi penasaran juga. Oya, terus ini agak-agak saya ubah sih resepnya tapi tetap enak :9


Maap, tampilannya ga oke tapi enak loh!!
Bahan-bahan:
250 gr nasi
1/3 sdt garam
Kaldu secukupnya
2 btr telur, kocok lepas
Keju parut [sesuai selera]
Oregano, sedikit saja
1/2 buah wortel, potong kotak kecil
1/2 buah bawang bombay, cincang
1 sdm tepung terigu
1/4 buah Paprika merah, potong kecil-kecil
1/4 sdt merica bubuk
1 sdm margarin untuk menumis

Saus putih:
200 ml susu cair
1 sdm tepung terigu
1 sdm butter
Keju secukupnya
garam

Cara masak:
Saus putih:
Masukan butter, tambahkan tepung terigu, aduk cepat hingga tercampur, masukan susu. Tambahkan keju dan garam. masak hingga mengental. Cicipi. Matikan kompor.

Tumis bawang bombay dengan api kecil hingga harum, masukan wortel, orak arik hingga wortel layu. Tambahkan paprika, masak sebentar saja, matikan api. Sisihkan.

Kocok telur dengan garam dan merica. Masukan ke dalam nasi, aduk rata dengan kaldu, keju parut ,dan tumisan bawang wortel, tambahkan oregano, aduk rata. 

(Harusnya sih dipanggang di oven gitu pakai pyrex atau ramekin, tapi berhubung ga ada alat itu semua, ya udah saya masukin ke magiccom, iya magiccom, lol.)

Masukan nasi yang sudah dicampur ke panci magiccom terus tuang saus putih diatasnya. Taburi lagi dengan potongan paprika, oregano, dan keju. Masukan ke magiccom, setel cooking mode-nya.

Bisa gitu?

Mmm, ga bisa dibilang ga bisa juga sih, cuma ya hasilnya jadi rada aneh. Jadi aslinya mesti dipanggang di oven 170C selama 30 menit. Nah, berhubung magiccom cuma nyampe 100C dan langsung berubah ke mode warmer (60-70C) jadi agak peer nyetrak-nyetrek magiccom. Jadi kalau udah nyetrek ke mode warm, dia ga bisa langsung diubah lagi ke mode cook, mesti tunggu beberapa saat sampai suhunya turun sedikit, baru bisa dicetrekin ke mode cook. 

Naon atuh cetrak-cetrek.

Setelah 5 kali cetrek, ngantuk, yaudah dibiarin aja di mode warm, semaleman! hahaha. Jadilah sarapan pagi dengan risotto yang tampilannya lucu tapi enak. Dan saus putihnya diatasnya masih keliatan basah-basah gitu, tapi gapapalah.

Btw saya termasuk orang-orang yang percaya kalau apapun kalau dimasak dengan cinta bahan-bahan yang enak, hasilnya pasti enak. Paling juara sih aroma oreganonya, jadi ala-ala italiano gitu deh. Terus mungkin lebih enak lagi kalau misal pake daging cincang atau udang. Berhubung saya mah ngirit, yaudah pake wortel sama paprika aja seperti contoh di link tadi.

Oya, kemarin saya nemu oregano sachetan gitu di Slamart (anak gaul dago pasti tau) mereknya Samara Micron, Rp 2600 isi 2 gram. Lumayan.


Tampilan yang menjanjikan harusnya sih seperti diatas. Kalau diliat-liat sih sama aja, dibawahnya garing kecoklatan, nasi campur kekuningan, terus saus putih diatasnya, yay perfecto! Cuma karena pancinya ga bener-bener anti lengket jadi bagian bawahnya nempel. Peeeer pasti nyucinya.

Selamat masak cantik ala kosan ;)