Minggu, 18 Maret 2018

Alasan Menikah

Tahun-tahun kelulusan biasanya jadi tahun dimana semua orang seangkatan mulai ngomongin nikah. Cowo-cowo mulai sok-sok modus, cewe-cewe mulai menunjukan keterampilan hidup macam masak, ngehadepin anak kecil. Gue pernah ada di posisi tersebut, termasuk dimodusin sampe gue geuleuh sendiri. Pernah juga gue sampai nanya ke temen cowo gue (yang entah kenapa gencar banget nyuruh gue nikah), "kenapa sih bahas nikah melulu?", yang tapi ujung-ujungnya gue yang dia damprat seolah gue yg ngebet minta dinikahin. Malesin banget heu.

Tapi 2-3 tahun setelahnya biasanya udah mulai berkurang. Alhamdulillah udah pada dewasa dan mikir lebih bijak tentang pernikahan kali ya. Ga lagi jadiin itu guyonan karena sumpah itu ga lucu banget. Lebih pinter soal tujuan nikah, mungkin.

Gue sendiri lebih merasa paham mengenai relationship dan jodoh sih. Gimana ya, banyak gitu orang sekitar gue yang gue kira akan jodoh ternyata ga jodoh. Ada pasangan yang udah "jalan" selama kuliah, eh nikahnya sama yang lain. Banyak yang keliatannya cocok banget karena kelakuannya mirip. Ada yang kalau ngobrol asyik banget nyambung banget, eh ga jodoh juga. Kayaknya urusan jodoh tuh lebih kompleks daripada merasa kita soulmate as a friend. Jadi akhirnya mah ya ga perlu ngebet-ngebet banget usaha atau berharap sama manusia. Jalur sejadah udah paling bener.

Dulu gue ga terlalu paham tentang konsep nikah agar menjaga fitnah. Ada junior gue yang tiap kali ketemu selalu nyuruh gue cepet nikah agar menghindari fitnah. Gue pikir karena gue cewe standar yang ga segitu charmingnya dan gue juga bukan tipe cewe centil, gue masih bisa jaga diri. Hingga suatu hari gue pindah ke Bekasi. Men, berapa kali gitu digenitin cowo bahkan yg udah nikah! Dan sorry kalau gue jengah dan kolot soal kebiasaan married man yang kalau di kantor berasa single man. Jangan dibiasain plis.

Ada kejadian juga yang langsung bikin gue, oh ya gue cewe single, dan wanita itu potensi banget jadi fitnah untuk laki-laki yang kurang menundukan pandangan (dan hati sih) dan bener-bener ngerasa butuh perlindungan dari salah satunya sesosok suami. Detilnya ga perlu lah ya. Pokonya se-disgusting itu sampai gue sadar banget fungsi nikah untuk jaga fitnah.

Gara-gara kejadian itu gue jadi bener-bener jaga diri sekarang kalau interaksi dengan cowo apalagi yang sudah berkeluarga. Seperlunya aja gitu. Kalau bisa menghindar ya menghindar aja. Kecuali yang udah kenal banget dan tau banget. Semoga gue cepet ketemu sama guardian gue juga. Aamiin.

Selasa, 24 Oktober 2017

Investasi

Dapet dari instastory-nya founder QuranID, Archie Wirija, dimana doi juga ngecapture dari instastory seseorang (lupa, nanti ingetin aja ya kalau ada yang tau).

Jadi investasi itu ada 3 tahapan:
1. Investasi diri sendiri
2. Investasi jaringan
3. Investasi materi? (Lupa yang terakhir)

Tiga tahapan ini harus berurutan. Jangan langsung lompat ke no. 3 misal.

Investasi diri sendiri ini maksudnya bisa berupa beli buku, ikutan workshop, dll. Intinya bagaimana kita menambah wawasan untuk diri sendiri.

Investasi jaringan adalah berusaha memperluas pertemanan/perkenalan dengan siapa saja, terutama yang bisa dibilang lebih sukses dari kita. Kalau bisa sambil traktir. Tambahan: Never burn the bridge lah. Bisa jadi orang yang hari ini bikin kita ga enak, nanti malah tolong menolong.

Barulah yang ketiga, investasi materi. Bisa investasi properti, emas, dsb.

Jadi, misal kita mau invest properti. Hal yang dilakukan sebelumnya adalah:
1. Baca buku tentang properti
2. Ngobrol sama orang yang udah berkecimpung disitu

Rabu, 11 Oktober 2017

Opini: Polemik Angkot dan Taksi Online

Polemik angkutan umum dan angkutan online sebenarnya sudah ada sejak angkutan online menjamur di kota besar. Sayangnya pemerintah ga cepat tanggap soal hal ini. Bahkan terkesan plin-plan.

Beberapa waktu lalu kalau tidak salah pemerintah pusat pernah sempat melarang angkutan online. Lalu tiba-tiba ga lama setelah itu, Presiden mengizinkan. Lalu tempo hari juga ramai berseliweran poster di Bandung tentang himbauan dari Pemkot untuk mengambil alternatif angkutan di hari mogok angkot Bandung. Lalu tiba-tiba secara mengagetkan pemprov memutuskan untuk melarang kegiatan angkutan online di Jabar. Eh gimana?

Sebenarnya kalau boleh jujur, menjamurnya armada angkutan online itu memang bikin kota jadi makin semrawut, selain memang angkutan umum konvensional sudah semrawut sih. Tapi seolah ga ada pilihan lain, memang sangat lebih enak pakai angkutan online sih. Terutama ojek. Opsi lain, pakai motor sendiri. Itu adalah opsi paling nyaman di Indonesia: cepat, murah, dan bisa angin-anginan, huehehe.

Transportasi itu salah satu aspek yang krusial dalam keberjalanan kota. Seandainya dari dulu pemerintah itu aware tentang pentingnya kenyamanan transportasi umum. Muluk-muluklah kalau step pertama yang diambil adalah menghimbau masyarakat pake sepeda. Yang pertama harus diperhatikan itu ya transportasi umum.

Aku sebenarnya sedikit mengapresiasi sikap pemprov jabar yang berani bikin keputusan besar. Tapi sayangnya momennya kurang tepat. Yang terjadi sekarang masyarakat dipaksa pakai angkutan umum yang jelas-jelas ga layak dari segi kemanan dan kenyamanan. Tentu saja masyarakat akan marah. Sopir-sopir angkutan umum juga malah makin arogan karena merasa "menang".

Banyak usulan-usulan bagus nih dari teman-teman FB mulai dari penggunaan sistem tapcash untuk angkot sampai sistem upah bulanan sopir angkot. Tinggal dikaji dengan serius dan ambil keputusan dengan berani. Hilangkan alasan2 kalau angkutan umum itu sekarang punya swastalah, ada organdanya, dsb.


Barulah setelah itu pembatasan untuk angkutan online bisa dilakukan karena masyarakat sudah diberikan opsi yang dibutuhkan.

****

UPDATE

Baru aja ada klarifikasi dari pemprov katanya doi ga bekukan, hanya menghimbau. Eh gimana? Ini berasa lempar-lemparan bola peredam deh.

Yaudah semoga segera cepat tanggap solutif ya pemprov!!

Sabtu, 07 Oktober 2017

Move on and up


Aku termasuk orang yang susah move on, terutama dari kesalahan sendiri. Memori-memori masa lalu sering berputar-putar lagi di otak. Aku sering secara ga sadar melamun terus sedih. Aku bingung gimana cara menghilangkan kebiasaan itu.

Sampai suatu hari temenku bilang,

"Yaudah, mau gimana lagi kalau udah kejadian, mending energinya dialihkan ke hal yang lain."

Energi dialihkan, kayaknya itu kata-kata yang paling pas untuk mendefinisikan move on.


Jadi mulai sekarang kalau tiba-tiba kepikiran apapun yang bikin sedih, aku cepat-cepat mikirin hal apa yang bisa aku lakukan untuk menghalau itu. Sesimpel nyikat wc 10 menit sangat lebih baik dibanding 10 menit dihabiskan untuk galau dan sedih.


Dan diatas itu semua, move on terbaik adalah dengan mengingat Allah swt, bahwa segala hal telah diatur sedemikian rupa, dan Allah lah sebaik-baik tempat kembali.

Kamis, 05 Oktober 2017

Menjadi Anomali Positif


Suatu hari aku pernah dapet gambar yang isinya kurang lebih menggambarkan timeline kehidupan yang mengacu pada umur kita saat nikah. Disitu tertera perkiraan kalau kita nikah umur sekian, maka kira-kira punya anak di umur sekian lalu anak sekolah dan kuliah di umur sekian. Selain itu ada warna yang menggambarkan mana umur yang paling bagus untuk kita start nikah dan mana umur yang termasuk alert.

Those freakness is real. Banyak sekali opini di sekitar aku tentang keharusan mengikuti pola umum yang ada, ya let say nikah umur 25, punya anak sekian sebelum umur sekian, dll. Rasanya anomali banget kalau ada yang keluar dari rule tersebut. Pokoknya, buruk sekali deh kalau kita nikah ketuaan, atau punya anak ketuaan, dsb.

Kayak ga ada contoh positif atau berhasil aja.

Dunia ini, ga sepasti itu. Ga pasti kalau kamu nikah di umur 25 lalu kamu pasti akan punya anak di tahun depannya, bisa jadi baru dikasih pas umur 30. Bisa jadi orang yang baru dikasih rezeki nikah diumur 30, eh lebih duluan punya anak, kembar pula.

Sering juga aku dinasehati kalau punya anak diatas umur 30 lebih cepet cape, bla bla bla. I just never think that is a big deal. Maksudnya, semua pasti ada solusinya, dan masih banyak contoh orang-orang yang berhasil cope with that dan mereka sama sekali ga ngeluh, then why worry?

Ini bukan berarti aku berencana nikah telat atau mau punya anak diatas 30 tahun sih. Cuma, resah aja kalau denger orang-orang ngomong hal-hal yang padahal kalau disikapi positif sama sekali ga buruk. Lebih aneh lagi kalau dengar orang mengeluh pada hal yang sudah dia pilih. Misal, doi udah nikah terus punya anak, tapi setiap hari doi ngeluh tentang waktunya yang habis untuk anak, ga bisa pergi kemana-mana seperti si single, dsb. Jadi kayak lebih baik jomblo yang ngisi waktu dengan hal-hal positif, berbakti sama orang tua misal.

Belum lagi perseteruan tentang full time mom dengan ibu bekerja yang ga ada habisnya. Padahal itu cuma soal jalani peran masing-masing karena baik buruknya tergantung bagaimana kamu menjalani. Aku ingin, kalau takdirnya aku jadi ibu bekerja, mendidik anak-anakku untuk berpikir positif, ga usahlah kebawa-bawa opini negatif kalau ibu bekerja itu maka kamu bakal kekurangan kasih sayang, dsb. Banyak kok ibu bekerja yang anaknya ga merasa kekurangan kasih sayang, malah hormat banget sama ibunya. Begitu juga kalau takdirnya aku jadi full time mom.

We want a better life, tapi kita ngeluh terus.

Ini ga cuma terjadi di hal-hal tentang nikah tapi juga berlaku pada aspek lain. Pengalaman pribadi, aku sering banget dibilang salah jurusan, yang padahal sebelum itu aku ga kepikiran hal tsb. Aku jago di eksakta terutama matematika tapi malah sukanya desain. Waktu pertama masuk arsitektur untungnya ketemu dosen yang bisa membuat ilmu-ilmu eksakta itu kepake banget di desain, and I still believe kalau arsitektur itu ga cuma soal keindahan tapi juga reason-reason ilmiah di belakangnya.

Ya aku mengakui sih aku masih banyak kekurangan dalam mendesain. Sempat kepikiran juga kalau beneran salah jurusan, atau mungkin akan lebih baik kalau aku ambil yang beneran teknik/ sains. Tapi aku masih yakin aku akan menemukan jalan dimana bakat dan passion aku akan saling bertemu.

Anyway, kalau kamu mahasiswa arsitektur/ calon arsitek yang masih galau, atau merasa salah jurusan, I recommend you to stalk Pak Yusing blog. Jadi singkatnya, Pak Yusing itu sempat drop banget jaman kuliah karena merasa beliau ga bakat di arsitektur, hingga akhirnya beliau menemukan titik dimana dia bisa menyatukan antara bakat dia dengan arsitektur. Menurutku, beliau adalah salah seorang arsitek yang bisa mengubah keanomalian dia jadi suatu potensi, dan kita tahu sendiri dimana dia berdiri sekarang.

Terakhir, jangan terlalu takut sama hidup karena hidup kita ada Maha Pengaturnya. Jadikan keanomalian hidup sebagai suatu surprise yang dikasih sang Maha Pengasih dan sikapi dengan positif.

Jangan lupa bahagia dan bersyukur, manusia-manusia anomali!

Selasa, 03 Oktober 2017

You've been inspired, then what?


Salah satu step awal dalam mengerjakan proyek arsitektur, atau lebih luas lagi dalam mendesain, adalah mencari preseden. Lebih umumnya kita mesti cari inspirasi.

"pada dasarnya dalam desain kita ga pernah mulai dari nol," -seorang dosen

Tapi seringkali aku kebablasan dalam mencari inspirasi, terus jadinya malah ga mulai-mulai. Pokoknya kalau cari referensi atau preseden, aku jago, tapi pas masuk ke desain malah keteteran hahaha. Bukan satu atau dua dosen yang bilang hal yang sama.

Lately, aku pikir aku udah mulai tobat dari hal tersebut semenjak masuk dunia kerja yang menuntut semua serba cepat dan memenuhi target deadline. Tapi pada kenyataannya di saat aku kerja sendirian ternyata aku masih dengan kebiasaan yang sama meskipun sudah mulai berkurang.

Hal ini ga cuma terjadi dalam dunia arsitektur yang aku jalani saja. Aku suka banget baca-baca artikel orang-orang yang keren, dengerin podcast yang inspiratif, follow orang-orang yang positif. Tapi masih belum berhasil improve diri jadi seperti mereka hihi. But at least, dengan menghadirkan semangat-semangat positif bikin aku jadi ga down-down banget kalau lagi merasa worthless, hehe. Tau meliorism? Nah, kalau deket sama orang-orang ini tuh jadi kayak punya sedikit sense of meliorism gitu.

Last, mungkin sedikit tips untuk mengatasi kebablasan inspirasi, berdasarkan pengalaman di dunia kerja:
1. Batasi waktu searching.
2. Jangan terlalu memikirkan kesempurnaan, karena lebih baik kalau suatu pekerjaan itu selesai. Kalau bisa sempurna tentu lebih baik sih asalkan selesai.
3. Be confident, percaya diri kalau yang kamu kerjakan itu baik bila prosesnya dan usahanya juga baik.
4. Mau gimanapun sebuah pekerjaan itu pasti ada revisinya, jadi jangan takut untuk memaparkan ide walaupun itu belum sempurna.




Senin, 02 Oktober 2017

Coming Back

ehe
.
ehehehehe
.
hehe

.
.
.
.

Pada akhirnya gue kangen sama blog ini, dengan 19000 statistik yang sudah terkumpul. Rumah sebelah sangat indah tapi disini lebih nyaman.

Sedikit-sedikit gue mau mengembalikan tulisan-tulisan random yang ada di draft, tapi mungkin ga semuanya. Mungkin yang cukup bermanfaat saja. Gue merasa terlalu banyak mengeluh sebelum ini dan merasa bersalah telah menjadi dementor di blog ini. Gue ga janji tulisan disini akan lebih baik, tapi setidaknya cukup bermanfaat dan ga cuma ngomongin diri sendiri.

Welcome back! Enjoy my blog!